Catatan Harian Seorang Pramugari

November 21st, 2007 by emielxs

Aku sudah lama membaca kisah luar biasa ini di salah satu blog MP milik seorang pramugari asal indonesia yg kerja di thailand (maskapainya gak tau), tadinya aku mau minta ijin dulu dengan si empunya blog tapi ternyata banyak blog di MP yang memuat kisah ini,jujur aja aku juga lupa siapa nama si empunya blog yg pertama kubaca,tapi yang jelas kisah ini dasyat, aku nggak tahan untuk tidak membaginya…

////////////////////////////////////////////

Catatan Harian Seorang Pramugari

Saya pramugari biasa dari China Airline dan setelah beberapa tahun tidak mempunyai pengalaman yang mengesankan sampai pada tanggal 7 Juni yang lalu saya mengalami peristiwa yang mengubah pandangan saya terhadap pekerjaan maupun hidup saya.

Hari ini jadwal perjalanan kami adalah dari Shanghai menuju Peking. Pesawat sangat penuh. Di antara penumpang saya melihat seorang kakek dari desa, merangkul sebuah karung tua dan terlihat jelas sekali gaya desanya. Pada saat saya berdiri dipintu pesawat menyambut penumpang, kesan pertama saya ialah zaman sekarang sungguh sudah maju seorang dari desa sudah mempunyai uang untuk naik pesawat.

Ketika pesawat sudah terbang, kami mulai menyajikan minuman. Ketika melewati baris ke 20, saya melihat kembali kakek tua tersebut. Dia duduk dengan tegak dan kaku di tempat duduknya dengan memangku karung tua bagaikan patung.

Saya menanyakannya mau minum apa. Dengan terkejut dia melambaikan tangan menolak, Ketika akan dibantu meletakkan karung tua di atas bagasi tempat duduk juga ditolak. Lalu saya membiarkannya duduk dengan tenang, menjelang pembagian makanan saya melihat dia duduk dengan tegang ditempat duduknya. Ketika ditawari makanan juga ditolak olehnya.

Akhirnya kepala pramugari dengan akrab bertanya kepadanya apakah dia sakit, dengan suara pelan dia mejawab bahwa dia ingin ke toilet tetapi dia takut apakah di pesawat boleh bergerak sembarangan. Dia takut kalau-kalau merusak barang di dalam pesawat.

Kami menjelaskan kepadanya bahwa dia boleh bergerak sesuka hatinya dan menyuruh seorang pramugara mengantar dia ke toilet, pada saat menyajikan minuman yang kedua kali, dia melirik ke penumpang disebelahnya dan menelan ludah. Tanpa bertanya lagi, saya meletakkan segelas teh di mejanya. Ia terkejut dan mengatakan tidak usah, tidak usah. "Bapak sudah haus, minumlah."  Dengan spontan dari sakunya dikeluarkan segenggam uang logam dan disodorkannya kepada saya. Walaupun sudah dijelaskan bahwa minuman itu gratis, dia tidak juga percaya. Katanya, dalam perjalanannya menuju bandara, dia merasa haus dan meminta air kepada penjual makanan di pinggir jalan. Dia tidak diladeni malah diusir.

O, jadi demi menghemat biaya perjalanan dari desa dia berjalan kaki sampai mendekati bandara baru naik mobil, karena uang yang dibawa sangat sedikit, hanya dapat meminta minuman kepada penjual makanan dipinggir jalan itu pun kebanyakan ditolak dan dianggap sebagai pengemis.

Setelah dibujuk, akhirnya dia dia percaya dan duduk tenang minum secangkir teh. Tawaran makanan tetap ditolaknya. Dia lalu berkisah bahwa dia mempunyai dua orang putra yang sangat baik, putra sulung sudah bekerja di kota dan yang bungsu sedang kuliah di tingkat tiga di Peking. Anak sulung yang bekerja di kota menjemput kedua orang tuanya untuk tinggal bersama di kota tetapi kedua orang tua tersebut tidak biasa tinggal dikota akhirnya pindah kembali ke desa. Kali ini orang tua tersebut ingin menjenguk putra bungsunya di Peking. Anak sulungnya tidak tega orang tua tersebut naik mobil begitu jauh, sehingga membelikannya tiket pesawat dan menawarkan menemani bapaknya bersama-sama ke Peking, tetapi ditolak olehnya karena dianggap terlalu boros dan tiket pesawat sangat mahal. Dia bersikeras untuk pergi sendiri dan anaknya dengan berat hati menyetujuinya.

Dengan merangkul sekarung penuh ubi kering yang disukai anak bungsunya, ketika melewati pemeriksaan keamanan dibandara, dia disuruh menitipkan karung tersebut ditempat bagasi tetapi dia bersikeras membawa sendiri. Katanya, jika ditaruh di bagasi ubi tersebut akan hancur dan anaknya tidak suka makan ubi yang sudah hancur. Setelah dibujuk untuk meletakkan karung tersebut di atas bagasi tempat duduk, dengan hati-hati dia meletakkan karungnya. 

Selama penerbangan kami terus menambah minuman untuknya dan dia selalu membalas dengan ucapan terima kasih yang tulus. Tetapi dia tetap tidak mau makan, meskipun kami tahu dia sudah sangat lapar.

Saat pesawat akan mendarat dengan suara pelan dia menanyakan apakah ada kantongan kecil dan meminta saya meletakan makanannya di kantong tersebut. Dia mengatakan bahwa dia belum pernah melihat makanan yang begitu enak. Dia ingin membawa makanan tersebut untuk anaknya. Kami semua sangat kaget. Menurut kami yang setiap hari melihat makanan yang begitu biasa di mata seorang desa menjadi begitu berharga.

Dengan menahan lapar, disisihkannya makanan tersebut demi anaknya. Dengan terharu kami mengumpulkan makanan yang masih tersisa yang belum kami bagikan kepada penumpang, ditaruh di dalam suatu kantongan yang akan kami berikan kepada kakek tersebut. Tetapi di luar dugaan, dia menolak pemberian kami. Dia hanya menghendaki bagiannya yang belum dimakan, tidak menghendaki yang bukan miliknya sendiri. Perbuatan yang tulus tersebut
benar-benar membuat saya terharu dan menjadi pelajaran berharga bagi saya.

Sebenarnya kami menganggap semua hal tersebut sudah berlalu, tetapi siapa menduga pada saat semua penumpang sudah turun dari pesawat, dia yang terakhir berada di pesawat. Kami membantunya keluar dari pintu pesawat. Sebelum keluar, dia melakukan sesuatu yang sangat tidak bisa saya lupakan seumur hidup saya, yaitu dia berlutut dan menyembah kami, mengucapkan terima kasih dengan bertubi-tubi, dia mengatakan bahwa kami semua adalah orang yang paling baik yang dijumpainya. Kami di desa hanya makan sehari sekali dan tidak pernah minum air yang begitu manis dan makan makanan yang begitu enak. Hari ini kalian tidak memandang hina terhadap saya dan meladeni saya dengan sangat baik. Saya tidak tahu bagaimana mengucapkan terima kasih kepada kalian. Semoga Tuhan membalas kebaikan kalian. Dengan menyembah dan menangis dia mengucapkan perkataan terima kasihnya.

Kami semua dengan terharu memapahnya dan menyuruh seseorang anggota yang bekerja di lapangan membantunya keluar dari lapangan terbang. Selama 5 tahun bekerja sebagai pramugari, berbagai-ragam penumpang sudah saya jumpai, yang banyak tingkah, yang cerewet dan lain-lain, tetapi belum pernah menjumpai orang yang menyembah kami. Kami hanya menjalankan tugas rutin dan tidak ada keistimewaan yang kami berikan, hanya menyajikan minuman dan makanan. Tetapi kakek tua yang berumur 70 tahun tersebut sampai menyembah kami mengucapkan terima kasih, sambil merangkul karung tua yang berisi ubi kering dan menahan lapar menyisihkan makanannya untuk anak tercinta, dan tidak bersedia menerima makanan yang bukan bagiannya.  Perbuatan tersebut membuat saya sangat terharu dan menjadi pengalaman yang sangat berharga buat saya, yaitu lain kali jangan memandang orang dari penampilan luar tetapi harus tetap menghargai setiap orang dan mensyukuri apa yang kita dapat.

/////

Belajar…

October 8th, 2007 by emielxs

Hari ini, dua minggu lalu pekerjaanku nambah satu, jadi pengajar, satu pekerjaan yg sudah ditawarkan ke aku dari sekitar 3 tahun lalu, tapi selalu aku tolak. Alasannya sih agak mulia (menurut aku), "karena selama ini aku dapat ilmu secara otodidak". Aku takut  ntar orang-orang yg kuajar nggak dapat ilmu yang "standar". Kasian kalo mereka nanti mereka ketemu sama orang-orang dapat didikan standar, kampus misalnya, ntar ilmunya jauh beda.
Sampai satu saat sempet ngobrol dengan teman (pengajar juga, tapi bidangnya lain), kalo dia memang senang mengajar, karena katanya ," mengajar membuat kita tidak arogan dengan ilmu yang kita punya". "Buset! apa hubungannya", batinku.
Ternyata maksudnya kalo kita mengajar, mau nggak mau kita juga akan dituntut untuk selalu belajar, baik ilmunya maupun terapannya, dan belajar untuk menerapkan ilmu secara terstruktur, satu hal yang makan waktu lama bagi orang-orang otodidak… :p
Akhirnya kuterima kerjaan ini, tantangan baru… n income baru juga hahhhaha…